Flash Telkomsel Mokad

telkomflash matot

warning for telkomflash

Selama 4 hari berturut turut (tgl 27 agustus-31 agustus 2011), saat hari Besar Idul Fitri sedang berlangsung, Telkomsel Flash Timika mati total, alias tidak bisa melakukan browsing internet. Wah… kesal juga, satu-satunya layanan internet mobile kota timika yang di harapkan eh.. malah putus pada saat yang sangat bersejarah/urgent di gunakan. Sampai seorang teman datang ke rumah sambil membawa netbook barunya yang katanya kena virus! katanya : “Kenapa modem saya konek tapi tidak bisa browsing ya???”

Kata saya.. “Itu mah bukan masalah di ale pu netbook tapi di telkomsel flash nya” Data nya tidak lewat brur,, dial aja bisa wkwkwkw ” Oh gitu.. to katanya

Ya.. mau tidak mau harus ke warnet dengan biaya 10ribu/jam ck ck ck ck ck… mana upload file 3Mega saja tidak sukses… payah neh udah bayar nya 10ribuan, koneksi speedy di share pulak ke warnet cabang. Sueper Luambat deehhh..

Telpon ke Call Center 116 eh.. malah di putus, berulang-ulang di telpon selalu gagal/blank voice dari customer service 116 nya. wah apa maksudnya ya???, nanya ke teman di daerah lain oke-oke saja tuh telkomsel flash nya.

Ya.. hanya bisa berharap si provider mengaktifkan jaringan nya lagi setelah office hour.. dan ternyata hari ini pun tgl 1 september jam 12 an koneksi internet pun mulai normal kembali… legaaa rasanya…

Selama beberapa hari itu, telpon pun kadang susah sekali masuknya (Reject call, end call, no voice call/nada sambung) wah.. gawat banget, benar2 di mampatkan di jalur komunikasi telkomsel ini, apa mungkin ya Jalur Data di alihkan ke Voice, mumpung dapat pengguna Voice yang notabene pemakaian pulsa nya banyak … hehehehe.. tanyakan sendiri sama bos nya :(

Tapi inilah, salah satu penguasa provider telkomsel di kota Timika ini. kali aja ada Investor provider lain yang mau memberikan layanan yang serupa di kota ini, dengan keunggulan atau promosi yang lebih yahudd sehingga ada alternativ pilihan koneksi lain di kota ini.

Semoga kejadian ini tidak terulang lagi pada hari raya besar lain lagi nanti..

Lanjutkan …

Limbah Freeport Diduga Cemari Lingkungan

blog

Anggota Komisi IV DPR Markus Nari saat mengambil sampel air di Muara Sungai Ajkwa, sungai yang menjadi tempat pembuangan limbah PT Freeport Indonesia. Foto: Spedy Paereng

Timika, Papua 15/7 – Limbah atau Tailing PT Freeport Indonesia diduga telah mencemarkan lingkungan di sekitar muara sungai Ajkwa, Timika, Papua. Selain itu, limbah ini juga mengakibatkan pendangkalan di sungai-sungai sekitarnya.

Anggota Komisi IV DPR Markus Nari di Timika mengatakan, dari hasil pantauan di lapangan, hutan mangrove dan pohon sagu milik warga setempat mengering di sekitar daerah pembuangan limbah.

Kata dia, Hal ini juga menjadi ancaman bagi biota laut disekitar lepas pantai Mimika.

“batas untuk tailing itu sendiri sudah merambat kemana-mana, artinya pencemaran laut kita sudah terlalu besar, tadi kita sudah tinjau hutan-hutan bakao yang ada itu jadi kering disebabkan karena pengaruh dari pada tailling itu sendiri” Ujarnya.

Ditambahkan Nari, apabila hal ini benar adanya, makan PT Freeport Indonesia haru bertanggungjawab, karena merusak hutan dan laut serta biota yang ada di dalamnnya.

Dampak lain yang ditimbulkan, lanjut Nari kepentingan masyarakat di sekitar akan menjadi terganggu.

“menurut masyarakat sekitar, hutan, sungai dan sagu menjadi tumpuan untuk memenuhi kebutahan hidup sehari-hari, apabila ini sudah rusak lantas mereka mau makan apa kalo semuanya sudah rusak” ungkapnya.

Markus Nari menuturkan, komisi I V telah mengambil  sampel air limbah untuk diteliti di laboratorium.

Sesuai ijin yang diberikan Pemerintah, PT Freeport Indonesia dapat melakukan produksi sekitar 300 ribu ton setiap hari.

Setelah dilakukan pemisahan bijih emas, perak dan tembaga, Freeport membuang limbahnya melalui kali hingga menuju muara sungai Ijkwa dalam bentuk pasir halus bercampur air.

Ratusan Karyawan Freeport Sakit Akibat Jalan Kaki

Salah seorang karyawan terpaksa harus dirawat rekan mereka karena keletihan setelah berjalan kaki dari Tembagapura menuju Timika, sebagian dari mereka bahkan pingsan. Foto: Spedy Paereng

Timika, Papua 4/7 – Ratusan dari ribuan karyawan Freeport yang berjalan kaki dari Tembagapura menuju Timika mengalami kesakitan karena tidak sanggup lagi berjalan. Sebagian dari mereka bahkan pingsan dan harus digotong akibat keletihan.

Ribuan karyawan Freeport yang nekat berjalan kaki ini merupakan dampak dari aksi mogok kerja karena tidak adanya titik temu antara Serikat Pekerja dan Manajemen Freeport untuk melakukan perundingan Perjanjian Kerja Bersama atau PKB.

Sebelumnya, mereka telah meminta bus untuk membawa mereka ke Timika, namun ditolak olah manajemen Freeport.

Mereka terpaksa berjalan kaki dari Tembagapura Mile 68 sekitar Pukul 08.00 WIT, namun setelah melihat ratusan karyawan mengalami kesakitan satuan pengamanan Freeport langsung menjemput di Mile 50.

Salah satu karyawan Novi Hehanusa menuturkan, selama dalam perjalanan pihak manajemen tidak memberikan air minum ataupun makanan. “selama dalam perjalanan tidak ada makan maupun minum, itu yang menyebabkan banyak karyawan kesakitan” ujarnya.

Ia menuturkan, karyawan selama berjalan kaki untungnya dibantu oleh satuan pengamanan perusahaan dan Satgas Amole (aparat bersenjata yang menjaga kawasan PTFI).

“kami diberi air dan roti serta buah-buahan sama aparat, manajemen sama sekali tidak memperhatikan kami” ungkap Novi.

Aksi jalan kaki ribuan karayawan Freeport merupakan rangkaian dari aksi mogok kerja akibat tidak adanya titik temu antara serikat pekerja dan manajemen Freeport untuk melakukan perundingan Perjanjian Kerja Bersama atau PKB.

Mereka hendak bergabung dengan ribuan karyawan lainnya yang berada di pintu masuk Kuala Kencana. sementara jarak antara Timika – Tembagapura sekitar 60 Kilo Meter. (Spe)

Ribuan Karyawan Freeport Mogok Kerja

Ribuan karyawan PT Freeport Indonesia melakukan akisi mogok kerja, mereka berkumpul di pintu masuk Kuala Kencana, Timika, Papua. Foto: Spedy Paereng

Timika, Papua 4/7 – Ribuan karyawan PT Freeport Indonesia di Timika, Papua hari ini melakukan aksi mogok kerja. Mereka berumpul di Cek Point 28, jalan masuk menuju Kuala Kencana (kawasan perumahan karyawan Freeport).

Mereka hendak melakukan aksi mogok kerja di Pusat Perkantoran Freeport, di Kuala Kencana, namun dilarang oleh aparat Kepolisian. Alasannya Kuala Kencana merupakan salah satu kawasan Obyek Vital Nasional, Obvitnas, yang dilindungi oleh Undang-undang.

Ketua Serikat Pekerja Freeport Sudiro mengatakan, aksi mogok kerja ini dilakukan karena pihak manajemen tidak menjawab surat yang dilayangkan serikat pekerja kepada manajemen untuk segera melakukan perundingan Perjanjian Kerja Bersama atau PKB.

“kami pengurus serikat pekerja telah mengirimkan surat sebanyak lima kali sejak bulan april untuk melakukan perundingan PKB, namun hingga kini manajemen tidak menjawab” ujarnya.

Ia menegaskan, aksi mogok kerja ini bukan kehendak dari pengurus serikat pekerja, tetapi manajemen, karena terkesan sengaja mengulur-ulur waktu untuk melakukan perundingan.

Sudiro menuturkan, aksi ini dipicu dipecatnya enam pengurus serikat pekerja karena tidak pernah masuk kerja lebih dari lima hari.

“kami selama ini tidak masuk kerja karena mengurus masalah organisasi (serikat pekerja), dan itu dibenarkan oleh Undang-undang, jadi alasan manajemen untuk memecat kami sama sekali tidak mendasar” tungkasnya. (Spe)

 

Dua Kelompok Warga di Timika Bentrok

Salah satu kelompok yang bertikai di Timika, Papua. Foto: Spedy Paereng

Timika, Papua 1/7 – Dua kelompok warga di Jalan Trikora Timika, Papua siang tadi terlibat bentrok dengan menggunakan batu, panah, dan senjata tajam. Akibatnya 3 orang terluka.

Peristiwa ini dipicu kasus asusila (pemerkosaan) yang berujung pada pembayaran denda adat, namun belum terselesaikan secara tuntas.

Pihak yang menjadi korban asusila meminta pembayaran denda adat sebesar 50 juta rupiah, namun pihak yang lainnya hanya sanggup membayar sebesar 25 juta rupiah. Karena tidak puas dengan pembayaran denda tersebut, pihak yang menjadi korban langung malakukan penyerangan.

Aparat kepolisian yang tiba di  lokasi kejadian terpaksa melepaskan tembakan peringatan untuk melerai pertikaian. Pertikaian langsung meredah namun kedua belah pihak masih saling jaga.

Kepala Bagian Operasi Polres Mimika, Papua, Kompol. Syamsu Ridwan mengatakan, kelompok yang melakukan perbuatan asusila sebenarnya telah berniat untuk membayar denda, namun kelompok yang menjadi korban tidak menerima karena tidak sesuai dengan permintaan.

“satu kelompok sudah mau membayar, tapi ditolak karena jumlah pembayaran denda tidak sesuai sehingga mereka mengangkat batu, panah dan parang untuk menyerang” ujarnya.

Ia menambahkan, setelah dilakukan negosiasi, kelompok yang menjadi korban mau  menerima pembayaran denda “saat itu juga langsung dibayar uang senilai Rp.15.600.000 dan 3 ekor babi” tungkas Ridwan.

saat ini, korban luka dari peristiwa itu tengah mendapat perawatan di Rumah Sakit Mitra Masyarakat Timika. Kejadian ini sempat membuat warga sekitar panik serta menghentikan arus kendaraan. (Spe)